Indonesia

Blue Bird vs Uber: Apa Yang Sebenarnya Terjadi

Tadi pagi saya sedang duduk menunggu antrean pembuatan SIM di Satpas Daan Mogot ketika beberapa grup WhatsApp heboh dengan berita terkini: demonstrasi sopir Blue Bird menentang Uber. Atau lebih tepatnya, sopir kendaraan umum konvensional versus kendaraan umum online. Percikan-percikan kericuhan sudah ada sejak tahun lalu, tapi kali ini  akhirnya jadi kerusuhan beneran. Kendaraan dirusak, saling gebuk-gebukan, jalanan macet, Jakarta jadi makin semrawut, sementara kaum menengehe senang karena punya bahan bacotan di social media.

Tenang saja. Postingan ini bukan untuk membahas tentang ketidakbecusan aparat keamanan menangani masalah ini, yang seharusnya sudah bisa diantisipasi. Semua orang yang punya otak juga bisa memperkirakan kemungkinan kejadian seperti ini bakal terjadi, jadi kalau tidak ada antisipasi sampai berantakan begini, itu berarti…………..? Isi sendiri. Saya tau kamu tau jawabannya.

Postingan ini juga bukan untuk membahas bobroknya negara ini yang membuat rakyatnya stress karena tidak ada jaminan finansial, pendidikan, kesehatan dan masa tua, membuat kita hidup dalam ketakutan akan masa depan kita dan keluarga kita. Rasa frustrasi yang menyesakkan karena ditekan oleh nilai-nilai moral yang munafik, persis seperti air bertekanan besar dalam bendungan yang siap menerobos bila ada celah retakan sekecil apapun, makanya tidak heran hanya dengan sedikit provokasi orang Indonesia bisa langsung berubah jadi manusia liar dan ganas tanpa aturan. Melampiaskan segala frustrasi dan kemarahan yang selama ini menggumpal di dada, seperti tembok bendungan yang jebol. Bagi orang Indonesia, kerusuhan adalah terapi. Sarana untuk melepaskan stress dan mengalami katarsis. Tapi bukan ini yang saya mau bahas.

Saya mau bahas tentang apa yang SEBENARNYA terjadi hari ini. Bagaimana kerusuhan yang terjadi hari ini sebenarnya adalah sebuah pola yang sudah terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia. Dengan mengerti gambaran besarnya, kita jadi bisa mengetahui di mana posisi kita sekarang dan ke mana kita mau melangkah. Mungkin kamu pikir saya lebay. Mungkin bagi kamu ini hanya aksi demonstrasi sopir-sopir yang nggak tau aturan saja, tapi saya kasih tau sesuatu buat kamu, respon pemerintah dan masyarakat atas kejadian ini adalah salah satu titik penentu apakah bangsa ini akan jadi maju atau makin bobrok.

Oke, jadi apa yang sebenarnya terjadi hari ini?

Perang.

Hari ini telah terjadi perang. Perang antara ide baru versus ide lama. Kemajuan versus kemandekan. Modern versus kuno. Muda versus tua. Sains versus agama. Kebebebasan versus kontrol. Kiri versus kanan. Atau kalau bahasa kerennya: PROGRESIF versus KONSERVATIF.

Menurut KBBI:

progresif/prog·re·sif/ /progrésif/ a 1 ke arah kemajuan; 2 berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang (tentang politk); 3 bertingkat-tingkat naik (tentang aturan pemungutan pajak dan sebagainya)

konservatif/kon·ser·va·tif/ /konsérvatif/ a 1 kolot; 2 bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi yang berlaku

Ada sebuah perang yang sudah berlangsung ribuan tahun lamanya dan akan terus berlangsung selama manusia ada di muka bumi. Perang antara nilai-nilai yang sudah lama dianut versus nilai-nilai baru yang ingin menggeser nilai-nilai lama tsb (yang seringkali timbul sebagai bentuk ketidakpuasan akan nilai-nilai yang lama). Akibat perang ini, seluruh dunia dan semua orang di dalamnya terbagi menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Kamu mungkin tidak pernah nyadar tapi ketika kamu posting di social media, kamu sedang berperang, dan perang ini sungguh nyata, terjadi setiap hari, setiap detik, dan dilakukan oleh setiap orang baik sadar maupun tidak. Ini adalah perang yang akan menentukan masa depan saya, kamu, kita semua dan dunia.

Sebelum kita bahas lebih jauh, saya kasih analogi yang sederhana dulu: Sewaktu masih muda dulu, kakek kamu punya sawah warisan dari bapaknya, beliau mau anaknya (papa kamu) meneruskan usahanya, tapi papa kamu menolak karena mau jadi PNS. Kakek kamu marah besar, “Dasar anak gak tau diri, sudah dikasih sawah kok malah mau jadi kacung? Dasar goblok!” Sementara papa kamu marah juga, “Dasar orang tua kolot, memangnya mau sampai kapan ngandelin sawah? Capeknya doang, hasilnya sedikit!” Akhirnya papa kamu jadi PNS juga meski harus melewati berbagai konflik. Lalu beliau ketemu mama kamu, menikah dan punya anak (kamu). Setelah kamu lulus kuliah papa kamu ingin kamu jadi PNS juga, tapi kamu ingin buka bisnis online bareng teman. Papa kamu marah besar, “Dasar anak bego, sudah jelas PNS lebih terjamin, malah mau buka usaha gak jelas ngabisin uang!” Dan kamu juga marah, “Dasar orang tua kolot, ngapain jadi PNS gaji kecil, nggak tau apa ini zamannya internet?!”

Kakek kamu adalah seorang konservatif, hanya bisa berpikir dengan nilai lama yang selama ini dia pegang tanpa mau menerima nilai baru. Papa kamu ketika melawan kakek adalah seorang progresif, punya keinginan untuk maju keluar dari tradisi kuno keluarganya. Tapi ketika dia sudah tua, papa kamu jadi konservatif, dan menentang kamu yang progresif ingin maju sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Pola yang sama juga kemungkinan akan terjadi ketika kamu menghadapi anak kamu nanti, kamu akan jadi konservatif dan menentang anak kamu yang progresif. Kemajuan selalu diawali oleh perang ide dan nilai-nilai.

Perang yang terjadi sepanjang zaman

Sepanjang sejarah manusia, kisah yang sama seperti analogi diatas terus terjadi. Kalau sekarang kamu bisa membaca artikel saya ini di smartphone kamu yang canggih, itu semua diawali dari perang antara progresif vs konservatif ribuan tahun yang lalu. Saya tuliskan beberapa contohnya di bawah ini:

Selama berabad-abad bangsa Arab menyembah dewa-dewi dan tercerai berai, lalu Muhammad SAW datang dengan ide progresif, satu Tuhan dan satu Arab, mendobrak tradisi dan pola pikir lama. Beliau ditentang keras oleh kaum konservatif di zamannya, sampai harus kabur dari Mekah. Sekarang Islam salah satu agama terbesar di dunia.

Selama berabad-abad orang percaya bahwa matahari mengelilingi bumi, lalu Galileo Galilei membuktikan bahwa bumi mengeliling matahari. Ide progresif yang ditentang oleh gereja dan orang-orang konservatif di zamannya. Galileo dipenjara rumah sampai meninggal. Sekarang semua orang tau bahwa bumi mengelilingi matahari.

Selama berabad-abad perbudakan adalah hal yang normal dan alami, lalu Abraham Lincoln membebaskan para budak dan menghapus perbudakan. Ide progresif yang ditentang oleh kaum konservatif pro perbudakan dan menyebabkan perang saudara, salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Amerika Serikat. Sekarang tidak ada lagi perbudakan.

Selama berabad-abad wanita tidak punya hak asasi, atas pendidikan, pekerjaan, dan jalan hidupnya sendiri, lalu Kartini datang membawa ide progresif, bahwa wanita berhak menentukan nasibnya sendiri. Ide progresif yang ditentang oleh kaum konservatif. Sekarang wanita bebas bersekolah dan bekerja.

convpro

Kalau kamu perhatikan contoh-contoh di atas, konflik sepanjang zaman adalah proses transisi dari nilai-nilai lama  ke nilai-nilai yang baru. Semakin kuat pertentangannya, semakin sulit transisinya dan masyarakat jadi mandek. Semakin tidak ada pertentangan, maka transisinya semakin mudah dan masyarakat jadi semakin maju. Kenapa dunia dikuasai oleh bangsa Eropa? Salah satu alasannya ya karena kemampuan mereka menerima ide-ide baru dengan cepat.

Kamu progresif atau konservatif?

civil-war

Dalam cerita Civil War-nya Marvel, Captain Amerika terpaksa melawan Iron Man karena ada perbedaan tajam antara nilai-nilai yang mereka pegang. Sebuah perang antara progresif versus konservatif. Captain Amerika memihak kebebasan para super hero, sementara Iron Man memihak pemerintah yang ingin mengontrol para super hero. Selalu ada dua kubu dalam setiap konflik yang terjadi. Begitu pula dengan isu-isu yang terjadi di negara kita.

Isu: Pemblokiran konten pornografi
Progresif: Tidak setuju. Mengkonsumsi pornografi adalah hak pribadi setiap orang. Silakan buat peraturan, tapi jangan dilarang.
Konservatif: Setuju. Harus dilarang karena tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Isu: Pelarangan LGBT
Progresif: Tidak setuju. Gender dan orientasi seksual adalah hak asasi manusia. Silakan buat peraturan, tapi jangan dilarang.
Konservatif: Setuju. LGBT harus dilarang karena tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Isu: Taxi online
Progresif: Sangat mendukung. Teknologi ada untuk mempermudah hidup dan konsumen yang lebih diuntungkan. Silakan buat peraturan, tapi jangan dilarang.
Konservatif: Tidak mendukung. Taxi online harus dilarang karena tidak sesuai dengan aturan yang berlaku dan mengambil pasar taksi konvensional.

Isu: Pemimpin non-muslim
Progresif: Gak ada masalah. Yang penting kerjanya, bukan agamanya.
Konservatif: Tidak setuju. Karena tidak sesuai dengan ajaran agama yang saya anut.

Selalu ada dua kubu dalam setiap isu yang kita dengar. Jangan anggap remeh! Karena maju mundurnya sebuah negara tergantung dari posisinya dalam perang nilai-nilai ini. Respon masyarakat pada setiap isu yang muncul akan menentukan ke arah mana negara ini akan melangkah. Coba kamu lihat isu pornografi beberapa waktu yang lalu, perang itu akhirnya dimenangkan oleh gerombolan konservatif dan hasilnya Indonesia mundur dua puluh tahun dalam hal kebebasan informasi. Sekarang semua kena sensor, internet diblokir, bahkan wanita pakai tank top saja disensor di TV. Seolah kita adalah anak kecil yang matanya harus ditutup setiap kali ada wanita seksi. Absurd!

progresif-vs-konservatif

Kemajuan zaman tidak bisa dibendung. Kamu harus ingat, bahwa apa yang kamu anggap sebagai hal yang normal sekarang, dulunya dianggap sebagai ide yang aneh, gila, ngaco, sesat, nggak masuk akal, dosa, dan segala macam atribut negatif lainnya. Tapi semua itu hanyalah label yang digunakan oleh kaum konservatif yang bebal, tidak mau menerima perubahan, dan akibatnya menghambat kemajuan peradaban manusia.

Di abad ke-21 ini peradaban manusia sudah cukup maju, lihat saja smartphone di tangan, kita punya komputer canggih di genggaman tangan, kita juga pernah ke bulan, bisa cangkok jantung, bisa bikin pesawat jet, zaman sekarang kita tidak harus berlutut dan mengabdi pada raja, kita bebas berbicara tanpa harus takut dipenggal, bisa bekerja sesuai kemampuan dengan dibayar, bisa juga tidak bekerja kalau memang tidak mau. Sadar nggak sih, kita hidup di zaman yang luar biasa?! Nah, semua yang kamu nikmati sekarang bisa ada berkat ide-ide progresif yang dulu dianggap SESAT DAN DITENTANG oleh kaum konservatif.

Untuk bisa sampai di titik ini umat manusia membutuhkan 21 abad dan tidak terhitung berapa jumlah perang (sungguhan) dan korban nyawa yang melayang. Coba bayangkan seandainya umat manusia bisa lebih  santai dalam menerima ide baru, mungkin manusia sudah bisa bikin koloni di luar angkasa seperti Star Trek. Coba bayangkan kalau orang Indonesia bisa lebih santai dalam menerima ide baru, mungkin kita sudah maju dan makmur sejahtera seperti negara-negara lain.

Jadi kamu ada di kubu mana? Isi kolom komentar dengan opini, makian, dan keluhan kamu. Saya akan balas semuanya!