Journey

Cara Paling Mudah Dapatkan Visa USA

Jadi warga negara Indonesia itu kasihan, cuma dipandang sebelah mata oleh negara maju bule (Amerika, Australia, Kanada, Uni Eropa, dll). Paspor Indonesia tuh kayak nggak dianggap, kalo kita ingin berkunjung ke negara mereka harus bikin visa dulu dengan persyaratan yang maha ribet. Saya gondok banget setiap kali kepikiran masalah ini. Resiko tinggal di negara dunia ketiga.

Mulai dari Akte Lahir, KTP, KK, NPWP, kartu kredit, surat keterangan kerja, semua harus dilampirkan. Birokrasi yang konyol. Coba dipikirin deh, kalau kamu sudah punya KTP ya berarti kamu punya KK dan Akte Lahir. Karena syarat bikin KTP kan pake KK dan Akte Lahir. Jadi buat apa lagi diminta semuanya? Kasih KTP aja cukup dong harusnya? Saya nggak pernah ngerti apa tujuannya syarat seperti ini selain untuk ngeribetin orang.

Tapi syarat yang paling susah dari semuanya adalah bukti tabungan tiga bulan terakhir. Untuk mendapat visa dari negara maju kamu harus bisa membuktikan bahwa kamu punya uang yang cukup untuk membiayai perjalanan dan pasti pulang ke Indonesia. Mereka khawatir kamu nggak mau pulang lalu menumpang tinggal di negara mereka jadi imigran gelap dan bekerja secara ilegal.

Karena mereka tahu negara mereka lebih makmur, jadi banyak warga Indonesia pengen kabur dari negara menyedihkan ini.

Bagi orang-orang yang tabungannya gendut penuh dengan uang ratusan juta rupiah, bahkan lebih, tentu syarat ini nggak jadi masalah. Visa ke manapun sudah hampir pasti bisa didapat. Tapi bagaimana dengan yang tabungannya pas-pasan? Seringkali syarat visa ini yang membuat banyak orang jadi batal traveling, merasa harus nabung banyak uang dulu, padahal biaya liburannya sendiri tidak semahal itu.

Apalagi kalau dengar cerita-cerita orang lain yang ditolak visanya, jadi makin jiper. Takut kalau sudah mengeluarkan biaya untuk beli tiket pesawat dan bayar aplikasi visa, eh malah ditolak. Bukannya jalan-jalan malah rugi. Rugi waktu, rugi uang, rugi hati.

Nah, visa Amerika Serikat adalah visa yang paling ditakuti dari semua visa. Konon menurut sahibul hikayat, visa USA ini sangat sulit didapat. Lebih sulit daripada membangun 1000 candi dalam semalam. Dianggap sebagai visa yang paling mulia dari semuanya, karena masa berlakunya 5 tahun dan kalau sudah dapat visa USA maka akan lebih gampang untuk dapetin visa lainnya. Legendanya sih begitu. Kamu bisa baca prosedur dan syarat permohonan visa USA di situs kedubes Amrik.

Saya salah satu orang yang percaya mitos tersebut. Jadi ketika saya mau ngurus visa USA kemaren ini, lumayan deg-degan juga. Apalagi beberapa teman saya pernah ditolak. Jauh-jauh hari semua sudah dipersiapkan dengan seksama. Tabungan saya secara teori sih katanya cukup tapi untuk jaga-jaga, saya menggoreng rekening bersama teman saya. Menggoreng rekening itu maksudnya saya dan teman saya beberapa kali saling transfer sejumlah uang supaya terlihat ada aktifitas yang sehat di rekening.

Karena saya ikut tour, jadi semua aplikasi diurus oleh pihak tour. Saya cuma disuruh datang untuk wawancara di kedutaan USA di tanggal yang sudah ditentukan. Saya datang di hari H dengan membawa map tebal berisi segala macam dokumen, foto, paspor, Akte Lahir, KTP, KK, NPWP, kartu kredit, surat keterangan kerja, SIUP kantor, SIUP agen tour-nya, surat sponsor, buku tabungan, sampai sertifikat rumah! (teman saya bahkan bawa sertifikat deposito juga).

Mulai jam 6 pagi antrian sudah panjang di luar kedutaan (di pinggir jalan!), sebelum masuk harus menyerahkan semua HP dan barang elektronik, begitu masuk kedutaan ada scanner barang dan orang yang kayak di airport. Mungkin takut ada yang bawa bom. Setelah itu harus ngantri dan melewati berbagai prosedur lainnya yang berlapis-lapis, baru sampai ke bagian wawancara. Di sini saya mulai kesal. Benar-benar merasa terhina jadi warga negara Indonesia, mau jalan-jalan dan buang duit di negera mereka saja ribetnya setengah mati.

Kalau kita yang mau ke Amrik, kita harus siapin segala macam dokumen jauh-jauh hari, bolos kerja di hari wawancara, harus bangun subuh, ngantri dari pagi, diperiksa seperti teroris, ngantri lagi buat dicek paspor dan formulir, lalu ngantri (lagi!) buat wawancara dan itu pun belum tentu dapat visa!

Tapi kalau warga Amrik mau ke Indonesia, apa yang harus dia lakukan? Tinggal beli tiket dan terbang, begitu sampai sini tinggal tunjukkin paspor USA, bayar $25 di imigrasi, sudah langsung dapat izin tinggal selama 30 hari!

Tai banget kan?! Miris rasanya. Ini bikin saya jadi makin sebal sama pemerintah Indonesia yang nggak becus. Perbedaan kasta antara negara maju bule dan Indonesia tuh kayak bumi dan langit. Buat mereka, kita nih negara sudra. Kecuali kamu punya uang, paspor kamu nggak berlaku! Sementara paspor mereka berlaku hampir di seluruh dunia, mau ke manapun bisa tanpa visa-visaan.

Kalau kamu pikir hal ini wajar dan memang sudah seharusnya begitu, sini saya kemplang kepala kamu pake raket nyamuk.

Ini situasinya nggak jauh beda sama jaman kolonialisme dulu. Orang Belanda gampang keluar masuk Hinda Belanda, tapi pribumi susah kalau mau ke Belanda (kecuali bangsawan). Tapi katanya kita sudah merdeka?

Coba dipikirin baik-baik. Yang membedakan kita dengan warga Amerika apa sih? Cuma masalah kelahiran. KEBETULAN saja kita lahir di Indonesia dan KEBETULAN saja mereka lahir di USA. Tapi hal yang KEBETULAN itu lah yang dijadikan patokan bagi seluruh dunia untuk menilai kita. Identitas, kebebasan, dan harga diri kita ditentukan oleh hal yang murni KEBETULAN!

Sorry, saya jadi melantur…

Cuap-cuap politiknya kita tunda dulu, sekarang kita balik lagi ke masalah visa USA.

Singkat cerita, setelah nunggu lama akhirnya saya maju ke loket wawancara. Yang wawancara saya orang Amrik tapi bukan bule, mungkin Hawaiian, saya nggak tau. Orangnya ramah banget, dia nanya saya kerja apa. Kita ngobrol sebentar, sempat ketawa-ketiwi juga. Semua percakapan dalam English.  Ngobrol basa-basi sekitar semenit, lalu saya dikasih slip putih. Permohonan visa saya diterima.

Loh, sudah? Begitu saja? Nggak ditanya tujuan ke Amerika, kapan mau pergi, pulangnya kapan, nginep di hotel mana, dan semua pertanyaan yang sudah saya antisipasi. Nggak ada satu pun yang ditanya. Semua tumpukan dokumen yang saya bawa nggak ada satu pun yang dilihat. Diminta aja nggak!

Saya perhatikan, semua orang yang wawancara di loket saya itu, semuanya diajak ngobrol santai dan langsung dapet slip putih nggak pake lama. Sementara di loket sebelah, wawancaranya formal, pertanyaannya detil, orang-orang pada gugup dan ada juga yang ditolak.

Hmmm.. akhirnya saya ngerti.

Dapetin visa USA itu murni hoki-hokian.

Tergantung kamu dapet wawancaranya sama siapa. Kalau dapetnya yang ramah seperti saya berarti kamu beruntung. Kalau kamu dapetnya yang jutek ya itu namanya sial. Atau mungkin bisa saja kedutaan punya jatah penolakan yang harus dihabiskan, jadi beneran acak orang-orang yang ditolak. Saya juga nggak tau. Tapi yang jelas, itu semua bergantung sama faktor keberuntungan.

Jadi sebenarnya nggak perlu terlalu memusingkan masalah dokumen dan tabungan kalau mau apply visa USA. Terbukti oleh saya dan orang-orang yang ngantri di loket yang tadi, semua dokumen itu nggak terpakai sama sekali! Semua mitos dan legenda tentang visa USA buyar sudah. Ternyata nggak sesusah yang orang bilang, justru sebaliknya.

Gimana cara gampang dapat visa USA? Simple. Doa dan amal yang banyak supaya dapet pewawancara yang baik.